Perkemahan Akhir Tahun, SMP Alkarima Boarding School Gandeng PSBA UGM Berikan Edukasi Kebencanaan

BANTUL -- Gugus Depan pangkalan SMP Alkarima Boarding School Bantul bekerja sama dengan Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada (PSBA UGM) menyelenggarakan kegiatan edukasi kebencanaan dalam rangkaian agenda di Perkemahan Akhir Tahun yang diselenggarakan di kompleks sekolah.

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 21 Juni 2026 pukul 08.00 sampai dengan 10.00 WIB tersebut diikuti oleh 122 peserta dengan fokus edukasi pada Bencana Gempa Bumi.

Pemilihan topik gempa bumi didasarkan pada pengalaman kebencanaan yang pernah dialami kabupaten Bantul pada 27 Mei 2006 silam. Saat itu pada pukul 05.54.01 WIB wilayah bantul dan sekitarnya diguncang gempa bumi berkekuatan 6,4 Magnitudo yang mengakibatkan lebih dari 6.000 orang meninggal dunia dan merusak sekitar 2.900 bangunan sekolah.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bencana gempa bumi yang memberikan pelajaran penting mengenai perlunya upaya pengurangan risiko bencana, termasuk melalui pendidikan dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat sejak usia sekolah.

Ketua Panitia Perkemahan Akhir Tahun, Kak Ali Mustofa menyampaikan bahwa edukasi kebencanaan dimasukkan ke dalam rangkaian kegiatan perkemahan sebagai bagian dari upaya membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan dasar menghadapi situasi darurat.

“Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan memahami langkah-langkah penyelamatan diri dan memiliki kesiapan yang lebih baik apabila menghadapi keadaan darurat,” ujarnya.

Kak Muhamad Irfan Nurdiansyah selaku narasumber dari PSBA UGM menjadikan momen ini sebagai salah satu kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang kebencanaan serta pengurangan risiko bencana.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk kolaborasi dengan Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mendorong penguatan budaya aman bencana di lingkungan pendidikan.

Pada sesi materi, peserta diperkenalkan pada pengertian bencana secara umum, jenis-jenis bencana yang ada di indonesia, serta karakteristik dan potensi ancaman gempa bumi. siswa juga memperoleh pengetahuan mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa bumi.

Dalam paparannya, narasumber menjelaskan bahwa hingga saat ini gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti kapan, di mana, dan seberapa besar akan terjadi. karena itu, upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat agar mampu merespons secara cepat dan tepat ketika bencana terjadi.

Pihaknya juga menjelaskan bahwa pendidikan kebencanaan bagi anak sekolah memiliki peran penting. Hasil penelitian pasca great hanshin-awaji earthquake di Jepang pada 17 Januari 1995 menunjukkan bahwa sebagian besar korban selamat pada saat gempa berhasil menyelamatkan diri melalui tindakan yang dilakukan secara mandiri maupun dengan bantuan orang-orang terdekat.

Hasil survei tersebut mencatat bahwa korban selamat paling banyak diselamatkan oleh diri sendiri sebesar 35 persen, diikuti anggota keluarga sebesar 31,9 persen, teman atau tetangga sebesar 28,1 persen, orang yang kebetulan lewat sebesar 2,6 persen, tim pencarian dan pertolongan (sar) sebesar 1,7 persen, dan lain-lain sebesar 0,9 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan dasar yang dimiliki individu serta lingkungan terdekat menjadi faktor penting dalam penyelamatan saat bencana terjadi. oleh karena itu, pengenalan pendidikan kebencanaan sejak usia sekolah diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk melindungi diri sendiri dan membantu orang lain secara aman ketika menghadapi keadaan darurat.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi tanya jawab. Para peserta menunjukkan antusiasme dengan mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari penyebab terjadinya gempa bumi, tindakan yang perlu dilakukan ketika berada di dalam bangunan saat gempa terjadi, hingga cara memberikan pertolongan kepada teman yang mengalami cedera.

Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti pelatihan praktik berupa evakuasi mandiri dan teknik dasar pengangkatan korban secara aman. dalam sesi praktik tersebut, siswa mempelajari cara melindungi diri saat terjadi gempa, bergerak menuju lokasi yang lebih aman, serta memahami prinsip-prinsip dasar membantu proses evakuasi tanpa membahayakan diri sendiri maupun korban.

Pelatihan praktik ini bertujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif sehingga siswa tidak hanya memahami konsep kebencanaan secara teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan dasar yang dapat diterapkan apabila menghadapi situasi darurat di sekolah, rumah, maupun lingkungan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan SMP Alkarima Boarding School, Kak Raharja mengapresiasi pelaksanaan kegiatan edukasi kebencanaan yang melibatkan PSBA UGM dan Sekber SPAB DIY ini.

Menurutnya, pendidikan kebencanaan merupakan bagian penting dalam membangun karakter peserta didik yang memiliki kepedulian, ketenangan, dan kemampuan bekerja sama ketika menghadapi situasi darurat.

Kegiatan edukasi kebencanaan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat budaya sadar dan aman bencana di lingkungan sekolah. Sebagai tindak lanjut, sekolah dapat mengembangkan program kesiapsiagaan secara berkelanjutan melalui simulasi evakuasi berkala, penyusunan prosedur tanggap darurat, serta penguatan pendidikan kebencanaan dalam berbagai kegiatan pembelajaran dan kesiswaan.

Melalui kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan, upaya peningkatan literasi kebencanaan di kalangan pelajar diharapkan dapat terus diperkuat guna mewujudkan satuan pendidikan yang lebih tangguh terhadap bencana.

Pewarta
M. Irfan Nurdiansyah

Editor
Praja

Posting Komentar

0 Komentar